PuisiSastra

Selusin Puisi – Kataluka

2 Mins read

PIKIRAN

Pikiranku ibarat Jalan A.P Pettarani di sore hari
kendaraan pribadi dan publik merapat
Seolah tak ada sela yang menyekat

Atau seperti jalan Urip yang ditutupi mahasiswa
beragam pribadi begulat di syaraf
Saling bersilat pendapat, padat

Ragaku dipeluki dilema
Mata dan telingaku menganga
Seolah pintu 1 arah, pintu masuk  semua masalah

Semua derita terkombinasi di dalam kepala
Seperti serangkaian nuklir-nuklir otak
yang akan meledak dan meratakan akal
*

PENGHARAPAN                  

sisakan Aku 
waktu, ruang 
untuk menebus asa 

meski pilu 
penat, resah 
peluk tubuh merana 

sisakan!
meski haru
gelisah, gundah
sesak dada teramat
*

SUNTING-SINTING

Sebentar lagi kau disunting
Lalu bunting
Dan Beranak-pinak

Sedang aku kelak jadi sinting
Mati tergunjing
Dan berkerak-kerak

Bentar lagi, dikit lagi
Kau disunting, aku sinting
Kau bunting, aku digunjing
Kau beranak-pinak
Aku berkerak-kerak
*

DUKA CI(N)TA

Lihatlah
Betapa cinta telah tega
Menelantarkanku di gang-gang sempit ini
Begitu gelap, dinginnya malam mencengkeram persendian
Menembus tubuh kurusku, memperlambat detak jantungku
Aku sesak, tersesat dalam luka-luka perpisahan

Lelah sudah
Betapa kesepian menyiksa
Membiarkan hati hidup sebatangkara lagi
Jauhnya jarak, lamanya waktu sudah kulewati dengan kesendirian
membakar kedua kaki yang menapaki bara kesunyianku
Aku jengah, bosan mengembalakan hati ke mana-mana

lihatlah
kematian cinta telah merampas suka citaku
aku berkabung pada dukaku sendiri
*

SESESALAN

Apa yang kini kujalani
seolah gedung tua yang rubuh
menjadi puing-puing menyepi
tak banyak juga yang  jadi abu

mungkin akan lapuk termakan masa
atau terbawa air ke samudera
diri lenyap dan hilang tak berasa
orang pun tak tahu aku apa, aku siapa!

bodohnya aku
lengah dari penjagaan ini
*

SENJA(KU)(MU)

Ketika senja berlalu
Kau adalah petangmu
Dan aku adalah malamku
Kita bersemayam dalam kelam
Jauh di malam yang suram

Kau tak menjadi rembulan
Tak menjadi  bintang-gemintang
Kita tenggelam di kedalaman gelap
berteman kesunyian
Lekat pada kawanan hampa

Ketika senja berlalu Kau tetaplah aku
Dan Aku tetaplah kau
Kita sama Kita setia
Kita setia dalam duka yang sama
*

KATALUKA (PUISI KOMBINASI)

Menatapmu adalah luka (Dalasari Pera)
Sepi datang begitu hening
diam entah kepada apa (Didha Alwi)

Keterasingan mengaliri urat nadi (Eka Fitriani)
pening
Kediaman itu kemudian kutuju (Handayani Utami)

Di wajahmu bermukim luka-luka (Mariati atkah)
Berangkat dari ngilunya hati (lusye Karolus)
Sudah tujuh kali tangisan pecah (Rahiwati Sanusi)
Api masih membakar (Dalasari Pera)

perih
Setelah kau pergi, aku jatuh (andi tenriola)
Kusaksikan resah mentari (Eka fitriani)

Bulan malam disandera debu (Madia Gaddafi)
Mendung beranak-pinak di ceruk langit (Mariati Atkah)
membentuk mendung gugat luka 

sakit
Kucecap pahit kehilangan ( Lusye Karolus)
Untuk jemari yang telah menjagaku ((Handayani Utami)

Telah sampailah aku ( Handayani Utami)
Bersama muka
tersirat amarah (Lusye karolus)
*

PENGHARAPAN II     

masih mengasing di sini
tempat kuharap berlalu ini sepi
tetap berteman sunyi
teman, kuharap ramai menghampiri

kau dan aku tak tahu siapa diri
dan tak tahu
kucampakkan ke mana luka?
Kau simpan di mana suka?

Tapi sejak kau meregang cita
Ku tak jengah menabung derita
Sudahlah, everything has changed!
*

TENTANG HUJAN SEMALAM

Tentang hujan semalam
Nafas-nafasnya menyebut namamu
dia berlagak sepertimu
Merintih
mengeluh
meneteskan air mata
memberi pertanda
Bahwa  luka dalam telah menusukmu
dan semua duka itu dari aku

Teruslah
Merintihlah
mengeluhlah
teteskanlah air mata
berilah pertanda
karena hujan tetaplah hujanmu
ia takkan jadi saksi atas kesalahanku
dan tentang kita semalam
cemburuku mungkin selalu berapi-api
tapi itu karena kau tak henti-henti memicunya
*

SESESALAN II

bodohnya aku
lengah dari penjagaan ini 
Aku banyak melepas waktu
Tak mendetik setiap nafasku

Sia-sialah aku
Hidup di hitungan jarak dari-Nya
Aku mudahya menahan langkah
Tak tergerak dari sekumpulan salah

Sungguh sesal
lalai dari telunjuk-Nya
*

PERTEMUAN

Pada pertemuan itu:
Kedua mulut kita membisu
Pandangan mata menjadi gelap
Wajah yang dulu senang bertatap
Kini saling memalingkan muka,
Menyurut suka
Mengasingkan senyuman

Bunga- bunga yang dulunya mekar
Kini menjadi api-api yang membakar
Aku jadi enggan menyapa
Kau segan merekat raga
Aku mulai amnesia
Dan kau sedikit pelupa

Kitalah Sepasang hati yang memutus cinta
seperti sepasang merpati yang menggila
atau wajah-wajah yang tak serupa
Kau adalah kumpulan senyum
Akulah simpulan cemberut
Disimpul mati
*

LUKA-LAKI

Laki-laki mudah suka
perempuan mudah luka
luka-luka laki-laki
perempuan suka sakit

laki-laki penuh luka
perempuan penuh suka
laki-laki luka-luka
perempuan sakit suka

Luka laki suka sakit
perempuan suka luka
laki laki sakit suka luka
perempuan sakit suka suka

lukalah
laki-laki
perempuanlah
suka laki sakit

***
Pangkep, 15 Januari 2013

Related posts
CeritaSastra

Secangkir Cinta dalam Semangkuk Mie

5 Mins read
Kau seduh aku dalam gelasDi aduk pelanLalu kau beri sedikit gula.*Saat itu, kau tersenyum padaku. Menanyakan apakah teh buatanmu sudah…
PuisiSastra

Selusin Puisi - Nyanyian Alam

4 Mins read
DI ANTARA DUA POHONkau berdiri di antara dua pohon ituyang terkadang jemarinyamengusap luka di sekujur tubuhmulalu kau memeluknya satu per…
PuisiSastra

Selusin Puisi - Obrolan di bawah Pohon

3 Mins read
Warisannakkelakkau juga akan jadi bapakpunya anak banyakmungkin lebih banyaktapi maaf sawah bapak hanya sepetak nakjangan timpali bapak atau bantah emakkelak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *