Warisan
nak
kelak
kau juga akan jadi bapak
punya anak banyak
mungkin lebih banyak
tapi maaf sawah bapak hanya sepetak
nak
jangan timpali bapak atau bantah emak
kelak kau juga punya anak
jangan sampai kau juga ikut dibentak
atau malah digertak
nak maafkan bapak
mati tinggalkan sawah hanya sepetak
uang emak juga tak banyak
kelak kau punya anak
kau bisa bagi jadi 4 sampai 5 petak
semoga isinya cukup untuk kau tanak
nak
kalau punya anak kelak
jangan kau pukul sampai bengkak
jangan paksa dia merangkak nak
jangan juga tamak
sawah bapak, uang emak
cukuplah kau pakai beranak-anak
***
Pangkep, 1 Januari 2014
Obrolan di bawah Pohon
di bawah pohon rindang
beringin pelindung-teduh tenang berdaun rimbun
masih ada anak manusia duduk membentak takdir
mengertak keadilan yang mulai rabun
aku menyangka, mereka berlebihan
tapi bibir dan hatinya yang memar dipukul nasib
menepis segala prasangka
sangkaan salah dariku
kerna mereka benar-benar dipasung benci
di bawah pohon tumbang
beribu ingin terkurung-penuh dengan permintaan tanpa rampung
anak manusia masih tunduk-mendongak pandir
melongo-memelas keimpasan yang buntung
kau menyangkal, aku melebih-lebihkan
tapi cibir dan hardikku yang nanar ditindih sikap pasif
mengikis segala perkara
manipulasi sah menurutmu
kerna apa yang benar akan melaung tanpa henti
ini belum usai
***
Pangkep, 10 Januari 2014
Merpati & Anak Pasar
di pasar siang tadi
bocah-bocah tanpa emak tanpa bapak
berburu makanan di sisa jualan
tak kenal medan di mana buah itu jatuh
atau bagaimana bentuk buah yang busuk itu
kadang juga mereka harus bertengkar dengan merpati
berebut biji jagung manis buat makan sehari
di pasar sore tadi
bocah-bocah tanpa teratak tanpa lapak
bercumbu dengan imajinasi di sisa siang
tak kenal suasana peraduannya malam nanti
atau bagaimana bising terus mengusik mimpi
kadang mereka juga harus bertengger bersama merpati
berbagi ranting pohon manggis untuk tidur selagi
***
Pangkep, 12 Januari 2014
Pinati
pukul
katamu pukul gendang itu
sementara yang lain meniup terompet mini yang sudah berabad-abad usianya
suaranya juga sudah parau, samar, jelas sulit terdengar
tunduk
seseorang tunduk di seribu detik malam ini hingga pagi hadir
sementara emak sibuk memercikan kesucian ke pusaka tua
yang untuk melihatnya butuh keberanian, atau perlu mengamit mantra berkali-kali
pukul katamu
aku tunduk tak mengerti keinginanmu
sementara yang lain, berebut kata, berebut suara
yang membuatku bingung entah mengapa
atau, adakah lirih di antara kalian?
***
Pangkep, 22 Februari 2014
Kopi Susu
sabtu malam aku punya janji denganmu
menyeruput kopi yang dimanisi sesendok susu kental
banyak hal yang akan kita perbincangkan
pertama, tentang kejahatan demokrasi yang kian mendarah dan mengental
kau tahu, kita bercita-cita demokrasi
tapi suara sudah menjadi barang yang tak sesulit dulu untuk direnggut
kau hanya perlu mengumpulkan ringgit lalu beli lalu kau rebut
sabtu malam aku punya janji denganmu
menyeruput kopi yang dimanisi sesendok susu kental
banyak hal yang akan kita bicarakan
kedua, tentang korupsi yang kian mendaging dan merusak mental
kau tahu, kita bercita-cita sejahtera
tapi uang sudah menjadi Tuhan yang mampu mengabulkan segala
kau hanya perlu membayar sesajen, merapal mantra dan menyuap semua
sabtu malam aku dan kau menghabiskan waktu
menyeruput kopi susu dekat pasar sentral
sayang malam terlanjur habis
padahal, masih banyak kepahitan yang ditutupi bantal
***
Pangkep, 25 Februari 2014
Cinta
mencintaimu seperti gunung yang kehilangan tinggi
seperti lautan yang kian mendangkal
atau seperti sehelai tisu tipis yang kian membasah
kerna air mata
bahkan, seperti sebuku puisi yang kian berdebu
dimakan masa dan tak terbaca
***
Pangkep, 27 Februari 2014
Hujan
aku mengintip dari balik jendela kamarku
kulihat hujan hari ini begitu riang menyapa
tanah yang kemarin tandus senyuman
berubah wajah tampan dan menawan menapak hari
apakah mereka sudah lama saling menanti?
aku cemburu, pertemuan mereka selalu saja jadi pelampiasan rindu
lihat, betapa hujan begitu kuat memeluk
dan tanah sungguh senang menyambut
apakah mereka sudah lama saling mencintai?
aku curiga, pertemuan mereka sudah diatur Tuhan bukan untuk kau dan aku
hingga malam, hujan terus mengguyur
mereka terus memeluk waktu dan seakan tak mau berpisah
apakah mereka sudah lama menahan rasa?
aku memburu, pertemuan mereka mestilah menjadi aku dan kau
aku dan kau yang mestinya mencinta seperti mereka
aku memelukkau
kau senang menyambutku
bukan malah curiga
atau cemburu yang menjadikanmu takut
dan seakan tak mau bertahan
lalu pergi kemudian
***
Pangkep, 28 Februari 2014
Sajak Orang di Persimpangan
aku ingin menjadi setan, yang benar-benar jahat
atau menjadi malaikat, yang benar-benar taat
karena menjadi manusia, aku seperti di persimpangan jalan
aku menanti hidayah atau bisa saja mendapat laknat
***
Pangkep, 1 Mei 2014
Bila Waktuku Tiba
bila waktuku tiba, ruhku tiada
bakarlah jasadku bersama dosa-dosaku
Bakarlah hingga menjadi abu
lalu, taburlah ke sungai maha Gangga
lakukan seperti halnya orang india telah lakukan
kepada keluarga yang dicintainya
lalu, biarkanlah aku mengalir dari matamu
dan bermuara di ujung bibirmu
kelak jika kau rindu
kau tetap ingat cara menyebut namaku
bila ruhku telah tiada
mandikanlah jenazahku
sucikanlah aku dari segala nista
dan mohon ampunkanlah setiap khilafku
lakukan seperti yang dilakukan orang-orang Islam
kepada keluarga yang disayanginya
lalu, makamkanlah aku sedalam-dalamnya dadamu
kelak, aku akan bangkit dari sana menuju ingatanmu
dan kau kan tetap tahu cara mengenangku
bila itu tiba
peti-kan aku dalam hatimu
setidaknya kau bisa menjagaku dari dalam sana
menjagaku dari ketiadaan yang sebenarnya
***
Pangkep, 2 Mei 2014
Jan di Penghujung Hujan
mari Jan, kita berdiskusi selagi malam
mencari tahu, bagaimana cara menemukan rembulan
sang purnama malang yang sedari tadi disekap awan
ya Jan, kau dan awan memang sekawan
tapi kutahu, kau lebih mencintaiku penuh
sungguh
dan kau amat ingin menemaniku menatap langit purnama
mungkin ini purnama yang terakhir
sebelum kemarau bersekutu dengan awan untuk memisahkan kita, Jan!
***
Pangkep, 2 Mei 2014
Batu Akik Sungai Mangguliling
hari ini kepalaku pening bukan main
bagaimana tidak, kepalaku dipacul
disemuti ibu-ibu berburu batu giok
batu Akik yang menjanjikan miliaran upah
aku dibuat tidak tidur nyenyak semalam
mereka terus menggali lebih dalam kepalaku
setiap batu yang disangka giok
dirampok dan diikat dalam karung
sakit
aku ingin menangis
tapi apa daya, mataku telah teramat kering
sudah berhari-hari lalu
orang beramai-ramai berkunjung di Mangguliling
membawa botol atau jerigen
air mataku diambil habis oleh mereka
katanya, obat itu mujarab
padahal mereka belum tahu saja
itu hanya air mata biasa
ketika aku sedih dianiaya manusia
***
Pangkep, 2 Mei 2014
Aku Sajak
aku adalah sajak
yang kaubaca tanpa kuajak
apakah kau memahamiku
atau tidak?
***
Pangkep, 2 Mei 2014

