DI ANTARA DUA POHON
kau berdiri di antara dua pohon itu
yang terkadang jemarinya
mengusap luka di sekujur tubuhmu
lalu kau memeluknya satu per satu
seolah mereka itu ibu-bapakmu
kau berdiri di antara dua pohon itu
yang terkadang membelai rambutmu
sehabis badai mengurainya tak bersusun
lalu kau membisiknya tentang lagu
lantunan kayangan tanpa riuh
pada suatu malam
aku berdiri di antara dua pohon itu
aku mencari jejakmu yang hilang
sehabis gergaji memotong-motong kakimu
lalu kedua pohon itu membisikku tentang lagu
lantunan kayangan tentangmu tanpa riuh
***
Labakkang, 24 Oktober 2014
SAJAK BATU PUTIH
kau tak perlu lagi mendaki tujuh puncak
melewati sembilan lembah atau menyebrangi seribu sungai
kau tak perlu menggali sedalam itu
juga tak perlu bersusah payah membawaku
aku ada di bawah kakimu, tersusun rapih di ruang tamu
aku ada di teras depan rumahmu, dingin begitu kaku
juga di jalanan pabrik menuju kotamu
aku juga ada di kantor tempatmu bekerja
aku dipajang, diam menahan semua luka
dan kau menikmati tubuhku yang terlupa
ingat: pada tengah malam di penghujung kemarau
kami bangkit, memantra langit tak menurunkan hujan bagimu
***
Labakkang, 24 Oktober 2014
HUJAN YANG KAU NANTIKAN
aku luruh ke tubuhmu
memenuhi seluruh retak bibirmu
melepas dahaga tenggorokanmu yang penuh kedustaan
aku luruh ke tubuhmu
mengusap semua luka di hatimu
mereda derita jiwamu yang senuh kepuraan
aku luruh ke tubuhmu
menggenangi kubangan jiwamu
meredam gempita ruhmu yang keruh kenistaan
aku luruh ke tanahmu
menggenapi setiap kotak sawahmu
membagi reski bagimu, lalu kau menjadi kufur
aku luruh ke tanahmu
melengkapi setiap kolam ikanmu
memberi rahmat ilahi, yang kau bagi cuma separuh
aku hujan yang kau nantikan
untuk memenuhi seluruh doamu
tapi kau tidak memenuhi doa yang lain
***
Labakkang, 24 Oktober 2014

TAK ADA BULAN DI PULAU
tak ada bulan di pulau
walau kau hapus semua awan yang menghalang
kau tak bisa menemukan persembunyiannya
kecuali kau punya banyak bensin atau solar
bulan bisa saja muncul senjenak di hadapanmu
lalu tersenyum meminta upah kemudian menghilang
tak ada bulan di pulau
sebanyak apapun bintang kau kumpul di bagan
takkan cukup menjelma rembulan untukmu
kecuali kau punya banyak relasi di kayangan
bulan bisa saja muncul sebentar di hadapanmu
lalu murung meminta upah dinaikkan kemudian hilang
tak ada bulan di pulau
tak ada, walau kau coba menahan matahari
bulan sangat pandai berlari
***
Labakkang, 24 Oktober 2014
MENJADI BATU
kamu bisa saja menjadi batu
diam di antara arus sungai dan lumut memenuhi sekujur tubuhmu
lalu ikan-ikan kecil melahapnya, menyisakan kamu sebatu yang bisu
kamu bisa saja menjadi batu
bergeming di atas bukit hingga embun bergantian menghinggapimu
lalu udara membasuhmu, menyisakan dingin yang teramat beku
kamu bisa saja menjadi batu
bersembunyi di antara debu dan tak ada apapun di sisimu
lalu hujan sediannya turun melepas dahaga, tapi menyisakan gemuruh
kamu bisa saja menjadi batu
kemudian lupa siapa Aku dibalik penciptaanmu
***
Labakkang, 24 Oktober 2014
SEBELUM KEMARAU, HUJAN BERPAMITAN
Sebelum kemarau tiba
langit akan sibuk mengemas awannya
menahan udara sampai wajahnya memerah
dua-tiga anak manusia akan menadahkan wajah yang sama
sambil memantra benih yang akan ditabur ke sawah
esoknya, hujan benar-benar pergi
dua-tiga anak manusia bergantian mengutuki moyangnya
langit tetap menahan udara dan membiarkan mentari meninggi
lalu terus mengemas semua awan di sudut-sudut angkasa
hujan pamit dan benar-benar meninggalkan langit
***
Labakkang, 24 Oktober 2014
DEBU-DEBU & OMBAK-OMBAK
berpuluh tahun ke depan, gunung yang kau daki dan kau pandangi
akan menjadi debu-debu yang meringsek masuk ke matamu
dan ombak-ombak di lautan takkan lagi membawa kabar pada pantai
mereka hanya akan memenuhi gejolak di hatimu
meluapi seisi matamu bersama debu yang sepi di tepi
sau
***
Labakkang, 24 Oktober 2014
DI UJUNG SUNGAI PANGKAJENE
Sore hari di peringatan kemerdekaan
orang-orang bergumul di pinggir sungai pangkajene
menertawakan bocah-bocah berlomba menangkap itik
semua itik tertangkap, dan pemenangnya adalah abdul
anak tukang becak yang sering nongkrong di depan bambu runcing
abdul membawa hadiah beserta itik yang ditangkapnya
lalu oleh ibuhnya dihindangkanlah menjadi sup
jelang malam, bapaknya belum pulang
kabarnya, bapaknya memenangkan lomba tarik becak tadi siang
tapi sungguh malang,di perjalanan pulang becak terpelanting jatuh ke sungai
karena tak tahu berenang, ia tenggelam
lalu menjelma itik dan ikut rombongan perlombaan
siapa yang mengira, itik yang dibawa abdul adalah bapaknya
yang oleh ibunya dijadikan sup santapan malam
keduanya lalu menitikkan air mata
dalam sepi kehilangan kepala rumah tangga
***
Labakkang, 26 Oktober 2014
PERJALANAN PULANG DEDAUNAN
Sebulan lalu kuhitung jumlah pucuk daun mangga depan rumah
jumlahnya tak seberapa, tapi warna muda selalu saja menggoda
hari ini mereka telah tumbuh dewasa, ada yang mulai ketuaan
bahkan ada yang telah dijamah ulat-ulat semalam
musim kemarau belum juga berakhir
dedaunan tadi pun dipaksa pulang tertatih-tatih
ranting juga tak kuasa menahan serangan dua perajurit langit
matahari, si panglima perang yang sangat keji
dan badai-badai, sekompi tentara yang amat licik
sebulan kemudian dedaunan terlentang sekarat di tanah
matanya nadir dan tubuhnya getir menahan luka
tanah begitu lapang menyambutnya saat manusia juga tak sabar membakarnya
dan dibawah tanah itu pula bersembuyi segerombolan ulat perompak
yang akan meniadakannya tanpa sisa tanpa iba
dedaunan itu seperti saja wanita yang pernah kutemui
di pelesiran jalan nusantara, mereka benar-benar siap lenyap tanpa memori
***
Pangkajene, 26 Oktober 2014
BURUNG GEREJA DI MENARA
burung-burung gereja bergumul di atas menara belakang rumah
mereka bernyanyi dengan tempo berganti : cepat lalu lebih cepat
“marina menari di atas menara, di bawah menara marina merana”
lagu itu untuk ibunya yang mati ditikam sepi
sunyi ditinggal suami sejak musim tak lagi semi
menara itu tempat terakhir ibunya melihat bumi
sebelum ia mematahkan kedua sayapnya dan terjun menemu ilahi
“marina menari, marina merana
lalu siapa lagi berikutnya?”
burung-burung gereja itu terus bernyanyi
lalu turut berhenti saat azan magrib ikut bersuara
sebelum akhirnya mereka ikut mematahkan sayap-sayapnya
lalu loncat ke langit untuk menemu iblis yang bersembunyi
***
Pangkajene, 26 Oktober 2014
ANAK-ANAK LAYAR: PULAU DALAM BOTOL
di pulau
kau akan melihat nyiur melambai
mendengar ombak membisik
dan pasir-pasir mendesir
lalu karang menangis seorang diri di dasar lautan
coba masukkan pulau itu ke dalam botol
campurkan sedikit tuak atau alkohol
lalu minumkan pada tetamu yang berdasi itu
lihat mereka mabuk dan mulai lupa
bagaimana nyiur melambai
bagaimana ombak membisik
bagaimana pasir mendesir
dan juga bagaimana rasanya menjadi karang
yang menangis seorang diri
masukkan lagi pulau itu ke dalam botol
jangan lupa tambahkan sedikit alkohol
lalu tawarkan kepada anak-anak nelayan
yang belum tahu mendayung perahu dan memanen bagan
lihat mereka akan mabuk dan ingin lupa
bagaimana nyiur melambai
bagaimana ombak membisik
bagaimana pasir mendesir
sebagaimana yang pernah karang lakukan seorang diri
menangis sesal telah melahirkan anak-anak layarnya
***
Pangkajene, 26 Oktober 2014
IKAN-IKAN HIAS
ikan-ikan hias
cahayanya telah bias
di kolam atau akuarium pemberian ibu
matanya buas
menyirip seperti kuas
mengumpat, pada lautan ia melukis rindu
ibu
ibu
ibu
air susumu tumpah ke kolam-kolam
tapi ikan mati kerna rindu yang terpendam
***
Pangkajene, 26 Oktober 2014

